Single News

Bupati : Adat Samawa Jangan Sekadar Warisan, Harus Jadi Karakter Generasi Sumbawa

Tamanews.id, Sumbawa Besar – Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP., mendorong agar nilai-nilai adat dan budaya Samawa tidak hanya dipertahankan sebagai warisan tradisi, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai adat, menurutnya, perlu menjadi pedoman dalam membentuk karakter masyarakat sekaligus mendukung pembangunan daerah.

Pesan tersebut disampaikan Syarafuddin Jarot saat membuka kegiatan Mudzakara LATS 2026 di Kecamatan Moyo Utara, Rabu (16/9/2026). Ia berharap forum tersebut menjadi ruang bersama untuk membahas berbagai persoalan masyarakat dan merumuskan nilai-nilai yang relevan bagi kehidupan sosial maupun arah pembangunan Sumbawa.

“Samawa seperti apa yang harus menjadi acuan terhadap daerah kita? Apa yang harus kita baca dan wariskan kepada anak cucu kita?” kata Syarafuddin dalam sambutannya.

Menurutnya, adat dan budaya tidak cukup hanya dikenang melalui seremoni atau dipahami sebagai identitas daerah. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu dihidupkan melalui tindakan nyata, baik dalam keluarga, lingkungan masyarakat, maupun pelaksanaan program pembangunan.

Dengan cara itu, adat diharapkan dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter masyarakat. Nilai-nilai tersebut juga dapat menjadi acuan dalam menyikapi perubahan zaman, termasuk dalam menghadapi persoalan sosial dan lingkungan yang semakin kompleks.

Dalam sambutannya, Bupati memberi perhatian khusus terhadap isu perempuan dan anak. Ia menilai pembahasan mengenai kedua kelompok tersebut berkaitan erat dengan masa depan keluarga, masyarakat, dan generasi penerus Sumbawa.

“Anak adalah generasi yang akan menerima dan meneruskan pembangunan ke depan. Karena itu, pendidikan tidak hanya sebatas di sekolah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Syarafuddin menekankan bahwa pendidikan karakter harus dimulai dari keluarga. Anak, kata dia, tidak hanya belajar melalui nasihat, tetapi juga dari perilaku orang-orang terdekat, terutama orang tua.

Cara orang tua berbicara, menghargai orang lain, memperlakukan lingkungan, serta menyelesaikan persoalan dapat menjadi contoh yang ditiru anak. Karena itu, pembentukan karakter membutuhkan keteladanan dan keterlibatan bersama, bukan hanya mengandalkan pendidikan formal di sekolah.

Ia berharap keluarga, sekolah, dan masyarakat dapat saling memperkuat dalam membangun lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Penguatan pendidikan karakter juga perlu berjalan seiring dengan perhatian terhadap pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Selain persoalan sosial, Bupati menyoroti pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari keberlangsungan kehidupan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa air, tumbuh-tumbuhan, tanaman, serta sumber pangan merupakan unsur penting yang perlu dijaga agar tetap tersedia bagi generasi mendatang.

Perhatian terhadap lingkungan tersebut, menurutnya, menjadi salah satu dasar pemerintah daerah mendorong program Sumbawa Hijau Lestari (SHL). Program ini diarahkan untuk merespons kondisi lingkungan yang mengalami degradasi serta perubahan iklim yang berdampak terhadap kehidupan masyarakat.

Salah satu gerakan yang telah dimulai sejak 2025 adalah mendorong setiap pegawai untuk menanam sedikitnya satu pohon. Bupati menyebut gerakan tersebut sebagai langkah sederhana yang diharapkan dapat memberi manfaat dalam jangka panjang.

“Kelihatannya kecil, tetapi manfaatnya akan dirasakan,” katanya.

Ia juga menyinggung meningkatnya perhatian dunia terhadap jasa lingkungan, termasuk mekanisme pembiayaan yang berkaitan dengan karbon dan upaya menjaga kualitas lingkungan. Menurutnya, kesadaran ekologis perlu menjadi bagian dari cara pandang masyarakat dalam melihat pembangunan.

Syarafuddin berharap hasil Mudzakara dapat memperkuat hubungan antara nilai adat dan agenda pembangunan pemerintah daerah. Nilai-nilai yang dibicarakan dalam forum tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan, membentuk karakter, dan pada akhirnya menjadi budaya masyarakat.

“Memperkuat pendidikan, membentuk karakter generasi muda, memperkuat pemberdayaan perempuan, dan kesadaran ekologis. Tanpa alam, kehidupan manusia akan susah,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Penguatan manusia, pelestarian budaya, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, serta kepedulian terhadap lingkungan juga menjadi fondasi penting bagi kehidupan masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati menyampaikan keterlibatan Sumbawa dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI). Ia menyebut Sumbawa baru pertama kali mengikuti jejaring tersebut. Agenda JKPI 2027 dijadwalkan berlangsung di Bandung, sementara Sumbawa direncanakan menjadi tuan rumah pada 2028.

Menurut Bupati, keterlibatan dalam JKPI menjadi bagian dari upaya memperkuat perhatian terhadap cagar budaya, peninggalan sejarah, serta kekayaan adat dan budaya daerah. Potensi tersebut, kata dia, perlu dijaga dan dikembangkan agar tetap menjadi bagian penting dari identitas Sumbawa.

Ia berharap warisan budaya tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dapat memberi makna bagi pembangunan dan kehidupan masyarakat saat ini. Melalui penguatan nilai adat, pendidikan karakter, perlindungan anak, pemberdayaan perempuan, dan pelestarian lingkungan, Sumbawa diharapkan dapat membangun masa depan dengan tetap berpegang pada jati diri daerah.