Tamanews.id, Sumbawa – Bupati Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P. membuka Festival Ai Mangkung Tingkat Kecamatan Buer Tahun 2026 di Lapangan Desa Jurumapin, Kecamatan Buer, Kamis (17/9/2026).



Festival tersebut menjadi momentum untuk menghidupkan kembali adat, sejarah dan budaya lokal sekaligus memperkuat kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sumber daya alam.
Kegiatan tersebut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) atau yang mewakili, kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Sumbawa, Camat Buer beserta jajaran, para kepala desa se-Kecamatan Buer, Kepala Desa Jurumapin selaku tuan rumah, perwakilan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sumbawa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, para seniman, ASN, ibu-ibu, pelajar serta masyarakat Kecamatan Buer dan sekitarnya.
Antusiasme masyarakat juga terlihat dari keterlibatan anak-anak sekolah dasar yang menyambut kedatangan Bupati Sumbawa di sepanjang perjalanan menuju lokasi kegiatan.
Dalam sambutannya, Bupati Sumbawa menyampaikan apresiasi kepada Camat Buer, para kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, seniman, panitia penyelenggara serta seluruh masyarakat yang telah mendukung pelaksanaan festival.
Menurut Bupati, Festival Ai Mangkung bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang untuk mengingat kembali sejarah dan kearifan lokal yang diwariskan para leluhur kepada generasi saat ini.
“Ini adalah adat yang kita kembali, budaya yang kita lestarikan, sumber daya alam yang kita lestarikan, yang akan menjadi pelajaran untuk dikenang dan dipelajari oleh anak-anak kita ke depan,” ujar Syarafuddin Jarot.
Bupati menjelaskan, Festival Ai Mangkung mengangkat kisah leluhur yang berkembang di tengah masyarakat Desa Jurumapin dan Kecamatan Buer.
Ia menuturkan kisah Lala Sri Menanti, seorang anak bangsawan yang dikenal memiliki kecantikan dan mengenakan berbagai perhiasan. Dalam kisah tersebut, Lala Sri Menanti mendatangi sebuah sumber air yang berasal dari kawasan Olat Pamantuk.
Namun, di tempat tersebut ia menjadi korban kejahatan hingga jasadnya ditemukan di aliran sungai yang kemudian dikenal sebagai Ai Mangkung.
Menurut Bupati, kisah tersebut perlu terus disampaikan kepada generasi muda agar sejarah lokal tidak hilang dan tetap menjadi bagian dari identitas masyarakat Sumbawa.
“Kita jadikan festival untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat di sekitar kita dan seluruh masyarakat Sumbawa bahwa telah ada suatu kejadian di zaman leluhur kita,” katanya.
Selain mengangkat sejarah lokal, Bupati menilai Festival Ai Mangkung memiliki pesan penting mengenai kepedulian terhadap lingkungan, khususnya dalam menjaga sumber mata air dan kawasan hutan yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat.
Bupati Sumbawa juga menekankan pentingnya menjaga alam dan hutan Sumbawa. Hal tersebut, menurutnya, sejalan dengan semangat program Sumbawa Hijau Lestari.
Menurutnya, pelestarian lingkungan membutuhkan keberanian sekaligus dukungan dari seluruh lapisan masyarakat.
“Saya tidak akan gentar. Saya akan selamatkan hutan Sumbawa yang sekarang masih tersisa,” tegasnya.
Bupati juga menyampaikan gagasan pemberian kompensasi berupa ternak bagi masyarakat yang melakukan penanaman pada lahan tertentu sebagai bagian dari upaya mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
“Kalau tertanam satu hektare, akan kita kasihkan kompensasi ternak satu hektare,” ujarnya.
Ia turut mengapresiasi masyarakat Desa Jurumapin yang telah memiliki kesepakatan adat dalam menjaga lingkungan dan kawasan sekitarnya.
Menurut Bupati, aturan yang lahir dari kesepakatan masyarakat memiliki kekuatan tersendiri karena dilandasi kesadaran bersama.
“Bukan karena takut dengan camat, bukan karena takut dengan Satgas, bukan karena takut dengan Kades, tetapi takut dengan kesepakatan-kesepakatan yang sudah dibuat oleh seluruh tokoh masyarakat,” kata Bupati.
Selain pelestarian alam dan sejarah, Syarafuddin Jarot mendorong Festival Ai Mangkung menjadi wadah untuk menggali serta mengembangkan potensi generasi muda.
Ia menyebut berbagai kegiatan seni dan budaya dapat dikembangkan dalam festival, seperti lomba tari, lagu Sumbawa, bagendang serta pantun berbalas pantun.
Bupati juga mendorong agar anak-anak lebih banyak menggunakan dan mempelajari bahasa Sumbawa. Menurutnya, penggunaan bahasa daerah dalam kegiatan pendidikan dan kebudayaan dapat melatih keberanian serta kepercayaan diri anak-anak.
“Kalau anak-anak kita ajar berpidato bahasa Sumbawa dulu, nanti besar kita konversi bahasa Indonesia. Ini akan menjadi ajang menumbuhkan keberanian dirinya,” ujarnya.
Ia menilai keterlibatan anak-anak dalam berbagai kegiatan seni dan budaya sejak usia sekolah dapat menjadi bagian dari pengembangan karakter sekaligus ruang untuk menunjukkan prestasi.
“Ini akan menjadi catatan khusus bagi prestasi murid, bagi anak-anak kita,” katanya.
Bupati berharap festival budaya tidak hanya menjadi kegiatan tahunan, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menampilkan kemampuan dan kreativitas, baik dari kalangan anak-anak maupun orang dewasa.
“Dengan adanya festival ini akan kita eksplor, kita kembangkan, keluarkan potensi-potensi yang ada di diri pribadi anak-anak maupun orang-orang tua,” tutur Bupati.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga memberikan apresiasi terhadap antusiasme masyarakat yang hadir mengenakan pakaian adat Sumbawa.
Menurutnya, festival budaya menjadi momentum untuk kembali menggunakan sekaligus memperkenalkan pakaian adat kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Ia menilai kegiatan seperti Festival Ai Mangkung dapat menjadi sarana untuk menjaga tradisi yang mulai jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
“Dengan adanya festival ini, minimal sekali setahun akan kita pakai pakaian adat untuk mempercantik diri,” ujarnya.
Bupati juga mengapresiasi kaum perempuan yang telah mempersiapkan diri sejak pagi untuk mengikuti kegiatan tersebut dengan mengenakan pakaian adat.
Syarafuddin Jarot mengatakan, kegiatan festival budaya dapat menjadi wadah untuk mengekspresikan dan mengembangkan berbagai adat serta budaya yang selama ini mulai mengalami pelunturan.
Ia berharap Festival Ai Mangkung dapat terus dikembangkan dan menghadirkan lebih banyak kegiatan budaya pada pelaksanaan berikutnya.
“Atas nama pemerintah, saya menyampaikan apresiasi kepada semua pihak. Mudah-mudahan Festival Ai Mangkung ini akan menjadi media, wahana kita mengeksplorasikan berbagai lomba-lomba budaya kita yang selama ini kita kembangkan,” katanya.
Menurutnya, festival juga dapat menjadi ruang untuk menampilkan berbagai potensi masyarakat sekaligus memperkuat rasa bangga terhadap budaya daerah.
Sebelum membuka kegiatan, Bupati Sumbawa menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatannya hadir karena harus mengikuti sejumlah agenda pemerintahan dan kegiatan lainnya pada hari yang sama.
Ia kemudian menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menunggu dan mendukung pelaksanaan Festival Ai Mangkung.
Dengan mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”, Bupati Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P. secara resmi membuka Festival Ai Mangkung Tingkat Kecamatan Buer Tahun 2026.
Festival tersebut diharapkan menjadi ruang bersama untuk menjaga sejarah dan tradisi, mengembangkan seni budaya, menggali potensi generasi muda serta memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga hutan, mata air dan lingkungan. (Dn)


