Single News

Dialog Kedaerahan di Unsa, Sekda Sumbawa Dorong Potensi Daerah Jadi Kekuatan Ekonomi

Tamanews.id, Sumbawa – Pemerintah Kabupaten Sumbawa mendorong penguatan gagasan kedaerahan sebagai pijakan dalam menentukan arah pembangunan dan masa depan daerah. Beragam potensi yang dimiliki Sumbawa dinilai perlu dikelola secara terpadu agar tidak berhenti sebagai kekayaan alam semata, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Hal tersebut mengemuka dalam Dialog Kedaerahan bertema “Sumbawa Hari Ini Menuju Sumbawa Masa Depan: Meneropong dan Mengoptimalkan Potensi Daerah untuk Kesejahteraan Masyarakat” yang berlangsung di Auditorium Universitas Samawa (Unsa), Minggu (27/9/2026).

Dialog tersebut dihadiri Wakil Rektor III Universitas Samawa, jajaran pengurus dan anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Samawa, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), serta sejumlah tokoh dari berbagai sektor yang memberikan perspektif mengenai arah pembangunan Sumbawa ke depan.

Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa, Dr. H. Budi Prasetiyo, S.Sos., M.AP., mengatakan dialog kedaerahan diharapkan tidak sekadar menjadi ruang pertukaran gagasan. Lebih dari itu, forum tersebut diharapkan mampu melahirkan pemikiran kedaerahan yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan arah pembangunan Sumbawa.

Menurutnya, Sumbawa memiliki potensi yang cukup besar di berbagai sektor, terutama pangan, kelautan dan perikanan. Potensi tersebut juga dapat diperkuat dengan pengembangan sektor pariwisata dan pertambangan yang dikelola dengan tata kelola yang baik.

“Potensi-potensi Sumbawa harus dikelola untuk menyejahterakan masyarakat. Bagaimana seluruh potensi itu dapat memberikan manfaat dan menghasilkan masyarakat yang bahagia,” ujar Budi.

Pernyataan tersebut menggambarkan pentingnya melihat pembangunan Sumbawa secara menyeluruh. Setiap sektor tidak dapat berdiri sendiri, melainkan perlu dikembangkan dalam sebuah ekosistem ekonomi yang saling memperkuat.

Potensi pangan, misalnya, tidak hanya berkaitan dengan produksi pertanian, tetapi juga dapat dikembangkan melalui pengolahan, distribusi, perdagangan hingga pariwisata berbasis produk lokal. Begitu pula dengan sektor kelautan dan perikanan yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan tidak hanya sebagai sumber bahan pangan, tetapi juga sebagai bagian dari ekonomi biru dan pariwisata berkelanjutan.

Dalam dialog tersebut, perspektif legislatif juga menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam mengawal pembangunan daerah.

Anggota DPRD Kabupaten Sumbawa Andi Rusni, S.E., S.H., M.M., mengatakan setiap pihak memiliki ruang pengabdian yang berbeda. Namun, seluruhnya memiliki tujuan yang sama, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan membangun Sumbawa.

Menurutnya, apa yang dilakukan masyarakat hari ini akan menentukan arah Sumbawa pada masa mendatang. Karena itu, mahasiswa sebagai salah satu kekuatan penting dalam kehidupan demokrasi perlu mempertahankan sikap kritis sekaligus menyampaikan gagasan yang didukung data dan dokumen yang kuat.

“Mahasiswa harus tetap kritis. Salah satu tulang punggung demokrasi adalah mahasiswa yang kritis. Kritik dan argumentasi yang kuat tumbuh dari data dan dokumen,” katanya.

Pesan tersebut menempatkan mahasiswa bukan hanya sebagai kelompok yang memberikan kritik, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab untuk ikut memahami persoalan daerah secara objektif. Perdebatan mengenai arah pembangunan, menurut pandangan yang disampaikan dalam forum tersebut, membutuhkan dasar informasi yang kuat agar gagasan yang muncul dapat dipertanggungjawabkan.

Dari sektor pendidikan, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Samawa, Dr. Juanda, S.S., M.Pd., C.Edl., C.CS., menyoroti posisi pendidikan dalam membentuk kualitas masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa pada masa kolonial, pendidikan pernah dibentuk sebagai salah satu instrumen pembeda antargolongan. Karena itu, pendidikan pada masa sekarang diharapkan mampu membuka ruang kemajuan, memperluas kesempatan dan mendorong perubahan sosial di tengah masyarakat.

Juanda juga berharap HMI tetap mempertahankan jati dirinya sebagai organisasi yang independen dan vokal dalam menyampaikan gagasan. Sikap kritis mahasiswa dinilai tetap penting sepanjang dibangun melalui argumentasi yang konstruktif dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Sementara itu, dari perspektif dunia usaha dan pengelolaan sumber daya alam, Direktur PT Amman Mineral Nusa Tenggara, H. Ahmad Salim, S.T., M.M., mengingatkan bahwa sektor pertambangan memiliki keterbatasan karena sumber daya mineral pada akhirnya akan habis.

Menurutnya, tantangan pembangunan bukan hanya bagaimana mengelola sektor pertambangan selama sumber daya tersebut tersedia, tetapi juga bagaimana aktivitas pertambangan dapat menjadi pendongkrak bagi tumbuhnya sektor ekonomi lainnya.

Hal tersebut membutuhkan tata kelola sumber daya alam yang baik sekaligus generasi penerus yang mampu mengawal pengelolaannya.

“Perangkat tata kelola SDA telah tersedia. Tugas kita memastikan perangkat tersebut dipergunakan dengan semestinya,” ujarnya.

Pandangan mengenai keberlanjutan juga disampaikan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Samawa, Yadi Hartono, S.P., M.Si. Ia menekankan pentingnya keadilan antargenerasi dalam pengelolaan sumber daya alam.

Menurutnya, pembangunan yang dilakukan saat ini tidak boleh mengorbankan kepentingan generasi yang akan datang. Pengelolaan sumber daya harus mempertimbangkan dampak jangka panjang, termasuk aspek lingkungan dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.

Yadi juga mendorong penerapan ekonomi sirkular sebagai salah satu pendekatan dalam mengoptimalkan sumber daya mineral. Menurutnya, mineral yang dieksploitasi harus mampu dikonversi menjadi kekuatan untuk membangun ekonomi lokal, memperkuat ketahanan sosial, serta mendorong tumbuhnya sektor ekonomi di luar pertambangan.

“Jangan sampai biaya ekologis dibebankan kepada generasi selanjutnya,” tegasnya.

Berbagai pandangan tersebut memperlihatkan bahwa masa depan Sumbawa tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan daerah dalam mengelola dan mengonversi potensi tersebut menjadi manfaat yang lebih luas.

Dialog kedaerahan di Universitas Samawa akhirnya menjadi ruang pertemuan berbagai perspektif, mulai dari pemerintahan, legislatif, pendidikan, dunia usaha hingga sektor pertanian. Masing-masing membawa sudut pandang berbeda, namun bertemu pada satu pembahasan besar mengenai bagaimana Sumbawa dapat mengoptimalkan kekuatannya untuk menghadapi masa depan.

Gagasan yang muncul juga menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam proses pembangunan. Mahasiswa tidak hanya diposisikan sebagai penerima kebijakan, tetapi juga sebagai kelompok yang dapat memberikan kritik, gagasan dan pengawasan terhadap arah pembangunan daerah.

Dengan potensi pangan, kelautan dan perikanan, pariwisata, pertanian serta sumber daya mineral yang dimiliki, tantangan Sumbawa ke depan adalah memastikan seluruh potensi tersebut dapat dikelola secara terarah, berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Dialog tersebut menjadi salah satu ruang untuk memperkuat kesadaran bahwa kekayaan daerah bukan sekadar angka dan sumber daya, melainkan modal pembangunan yang harus dikelola dengan tata kelola yang baik agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat hari ini sekaligus tetap terjaga bagi generasi mendatang.