Sumbawa Besar, Tamanews.id – Peringatan Tasyakur bin Ni’mah 15 tahun penobatan Sultan Sumbawa XVIII yang digelar di Bala Kuning Sumbawa, Minggu malam (5/4/2026), berlangsung khidmat dan penuh makna. Momentum ini tidak hanya menjadi peringatan historis sejak penobatan pada 5 April 2011, tetapi juga menjadi ruang refleksi mendalam terhadap arah kehidupan Tau Samawa di tengah perubahan zaman.
Acara tersebut dihadiri oleh Bupati Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., bersama sejumlah tokoh penting, mulai dari unsur Forkopimda, pimpinan DPRD, Sekda, kepala perangkat daerah, hingga tokoh adat dan agama. Hadir pula perwakilan Lembaga Adat Tana Samawa yang selama ini menjadi penjaga nilai dan tradisi lokal.
Rangkaian kegiatan diawali dengan dzikir dan doa bersama yang dipimpin oleh Dea Guru Syukri Rahmat, menghadirkan suasana religius yang memperkuat makna syukur atas perjalanan panjang Kesultanan Sumbawa sebagai simbol budaya dan identitas masyarakat.
Dalam orasi kebudayaannya, Bupati Sumbawa menegaskan bahwa peringatan ini tidak boleh berhenti pada seremoni semata. Ia menekankan bahwa penobatan Sultan bukan untuk menghidupkan feodalisme, melainkan memperkuat marwah dan jati diri Tau Samawa agar tetap relevan di tengah dinamika modern.
Bupati secara khusus mengangkat falsafah hidup Tau Samawa, yakni balong ai kayu, mole pade antap, dan telas kebo jaran, sebagai fondasi utama dalam menjaga keseimbangan kehidupan. Nilai balong ai kayu dimaknai sebagai kesadaran menjaga air dan hutan sebagai sumber kehidupan. Sementara mole pade antap mengajarkan kehati-hatian dalam pengelolaan sumber daya agar tidak berlebihan, dan telas kebo jaran menegaskan pentingnya harmoni antara manusia, hewan, dan lingkungan.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut tidak lahir dari kesepakatan biasa, tetapi berakar dari kesadaran spiritual yang kuat. Prinsip taket ko nene, kangila boat lenge menjadi landasan moral yang menuntun hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama.
Namun demikian, Bupati juga menyoroti tantangan besar di era modern, di mana nilai sering kali hanya menjadi slogan tanpa implementasi nyata. Ia menilai sistem pembangunan yang berorientasi pada angka dan indikator kerap mengabaikan ruh nilai budaya.
“Nilai tidak boleh hanya menjadi simbol. Ia harus hadir dalam kebijakan, dalam tata ruang, dan dalam setiap keputusan pembangunan,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, titah Sultan Muhammad Kaharuddin IV yang disampaikan oleh Lalu Muhammad Zulkifli Muhadli menegaskan pentingnya kesultanan sebagai payung budaya dan kebanggaan sejarah Tau Samawa. Dalam pesan tersebut juga ditekankan prinsip adat barenti ko syara’, syara’ barenti ko kitabullah sebagai pegangan hidup masyarakat.
Selain itu, Bupati Sumbawa Barat Amar Nurmansyah turut menyampaikan bahwa meskipun secara administratif telah terpisah, Sumbawa dan Sumbawa Barat tetap satu dalam identitas budaya. Ia juga mengingatkan tantangan generasi muda saat ini yang dihadapkan pada berbagai persoalan sosial, sehingga penguatan nilai budaya menjadi semakin penting.
Peringatan ini pada akhirnya tidak hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga penegasan arah pembangunan berbasis nilai. Pemerintah daerah, ditegaskan Bupati Jarot, akan terus berkomitmen menghadirkan nilai-nilai Tau Samawa dalam setiap kebijakan dan praktik pembangunan.
Momentum 15 tahun penobatan Sultan ini pun diharapkan menjadi titik balik kebangkitan kesadaran kolektif masyarakat, agar nilai budaya tidak sekadar diwariskan, tetapi benar-benar dihidupkan sebagai pedoman dalam menghadapi masa depan.