Tamanews.id | Mataram — Satu tahun pertama kepemimpinan Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal bersama Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri menandai babak baru transformasi subsektor peternakan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Peternakan kini tidak lagi sekadar diposisikan sebagai sektor produksi primer, melainkan sebagai pilar strategis ketahanan pangan, penggerak ekonomi daerah, pencipta lapangan kerja, serta fondasi industri berbasis nilai tambah.
Subsektor peternakan memiliki peran vital dalam menopang kebutuhan protein hewani masyarakat sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi jutaan rumah tangga petani dan peternak. Seiring pertumbuhan penduduk dan meningkatnya daya beli masyarakat, permintaan produk peternakan terus mengalami peningkatan, menuntut sistem produksi yang kuat, efisien, dan berkelanjutan.
Provinsi Nusa Tenggara Barat menempati posisi penting dalam peta peternakan nasional. Populasi sapi potong NTB berada di peringkat keempat nasional setelah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Selain itu, NTB juga menempati peringkat keempat untuk populasi kerbau, peringkat ketiga populasi kuda, peringkat ketujuh kambing, peringkat ke-12 ayam kampung dari 38 provinsi, serta peringkat ke-13 populasi itik secara nasional.
Keunggulan tersebut ditopang oleh ketersediaan lahan sumber pakan ternak ruminansia seluas 1.692.694 hektare, yang tersebar di Pulau Lombok seluas 353.025 hektare atau 20,85 persen dan Pulau Sumbawa seluas 1.339.669 hektare atau 79,15 persen. Daya tampung ternak herbivora di NTB mencapai 1.585.103 Unit Ternak (UT) atau setara 2.219.144 ekor, dengan potensi pengembangan tambahan sebesar 419.640 UT atau setara 587.496 ekor, yang sebagian besar berada di Pulau Sumbawa.
Modal ekologis tersebut menjadi fondasi kuat bagi transformasi peternakan NTB selama satu tahun kepemimpinan Iqbal–Dinda.
Produksi Meningkat, NTB Catat Surplus Daging dan Telur
Sepanjang tahun 2025, kinerja produksi peternakan NTB menunjukkan tren positif. Produksi daging ruminansia tercatat sebesar 15.366,1 ton, sementara kebutuhan konsumsi masyarakat mencapai 13.687,8 ton. Dengan demikian, NTB mencatat surplus daging ruminansia sebesar 1.678,32 ton. Angka ini meningkat 5,7 persen dibandingkan produksi tahun 2024 yang sebesar 14.537 ton.
Pada sektor unggas, produksi daging unggas tahun 2025 mencapai 57.998,4 ton, melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat yang sebesar 55.553 ton, sehingga terjadi surplus 1.860,27 ton. Produksi ini meningkat 3,3 persen dibandingkan tahun 2024 sebesar 56.138,1 ton.
Sementara itu, produksi telur tahun 2025 mencapai 57.506,44 ton, naik 1,86 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 56.434,86 ton. Peningkatan produksi telur ini ditopang oleh bertambahnya populasi ayam buras menjadi 5.303.821 ekor atau naik 4 persen, populasi itik yang meningkat menjadi 444.410 ekor, serta kontribusi telur puyuh sebesar 227,83 ton dengan populasi puyuh mencapai 131.389 ekor.
Capaian tersebut memastikan kebutuhan protein hewani masyarakat NTB tetap terpenuhi di tengah meningkatnya permintaan, sekaligus menjaga stabilitas pasokan pangan daerah.
Hilirisasi Ayam Terintegrasi Dimulai
Memasuki tahun 2026, tantangan baru muncul seiring membaiknya pertumbuhan ekonomi daerah dan berkembangnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai pendukung program Makan Bergizi Gratis. Sub sektor peternakan dituntut menyediakan pasokan protein dalam skala besar dan berkesinambungan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia meluncurkan Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi. Program ini mengintegrasikan seluruh rantai produksi unggas dalam satu klaster, mulai dari breeding ayam ras pedaging dan petelur, industri pakan, budidaya ayam, rumah potong unggas, hingga pengolahan produk daging dan telur bernilai tambah.
Setiap klaster diproyeksikan mampu menyerap lebih dari 1.300 tenaga kerja serta memperkuat rantai pasok, menekan biaya produksi, dan meningkatkan kesejahteraan peternak. Kabupaten Sumbawa ditetapkan sebagai lokasi pengembangan karena ketersediaan lahan milik pemerintah, jarak yang relatif aman dari permukiman, serta dukungan penuh pemerintah provinsi dan kabupaten.
Hilirisasi ini menandai perubahan arah pembangunan peternakan NTB dari sekadar produksi primer menuju industri modern berbasis nilai tambah.
PHMS Terkendali 100 Persen
Pada tahun 2025, NTB berhasil mencapai target 100 persen wilayah terkendali Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) di seluruh 10 kabupaten/kota. Sepanjang tahun tersebut tercatat 914 kasus PHMS, meliputi Anthrax, Septichaemia Epizootica, Surra, Rabies, Avian Influenza, dan PMK, yang seluruhnya berhasil ditangani.
Penguatan sistem kesehatan hewan dilakukan melalui pengadaan alat PCR, sehingga pemeriksaan PMK kini dapat dilakukan langsung di NTB tanpa harus mengirim sampel ke luar daerah. Pemerintah pusat juga mendukung melalui alokasi APBN untuk vaksin dan operasional vaksinasi PMK.
Tata Niaga Menguat, Distribusi Ternak Meningkat
Indikator tata niaga peternakan tahun 2025 mencapai 77,85 persen, melampaui target 75 persen. Persentase produk peternakan yang dipasarkan meningkat 9,22 persen dibandingkan tahun 2024.
Dukungan transportasi melalui Tol Laut juga memperkuat distribusi ternak. Sepanjang 2025 tercatat 17 voyage kapal ternak dengan rute Bima–Tanjung Priok, Bima–Gorontalo, Bima–Basirih, dan Bima–Trisakti Kalimantan Selatan. Pemanfaatan angkutan khusus ternak melonjak signifikan seiring NTB memiliki kapal sendiri tanpa mekanisme deviasi.
Populasi Sapi Naik, Nol Pemotongan Betina Produktif
Sebagai lumbung sapi nasional, populasi sapi NTB pada tahun 2025 mencapai 1.340.130 ekor, meningkat 2,44 persen dibandingkan tahun 2024. Peningkatan ini didorong oleh keberhasilan inseminasi buatan, transfer embrio, vaksinasi PMK, serta capaian penting berupa nol kasus pemotongan betina produktif sepanjang tahun.
Satu tahun kepemimpinan Iqbal–Dinda telah menghadirkan transformasi nyata subsektor peternakan NTB. Produksi meningkat, penyakit strategis terkendali, tata niaga menguat, dan hilirisasi industri unggas mulai dibangun. Peternakan NTB kini bergerak melampaui kandang dan populasi ternak, menuju industri yang menopang ketahanan pangan, ekonomi daerah, dan kesejahteraan rakyat.