Tamanews.id | Sumbawa — Pemerintah Kabupaten Sumbawa secara resmi mencanangkan SMPN 2 Moyohulu sebagai sekolah model Pendidikan Mitigasi Tangguh Bencana, Sabtu (7/3/2026). Pencanangan tersebut dilakukan oleh Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Sumbawa, Rachman Ansori, yang mewakili Bupati Sumbawa dalam kegiatan tersebut.
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, Pemerintah Desa Batu Tering, serta Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) melalui Fakultas Teknologi Lingkungan dan Mineral (FTLM). Sinergi lintas sektor ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun sistem kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan.
Kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan pemahaman mitigasi bencana bagi siswa dan guru, tetapi juga menjadi model kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat desa dalam membangun kesadaran kolektif terhadap potensi bencana.
Dalam sambutannya, Rachman Ansori menekankan pentingnya memahami kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan rawan bencana. Ia mengingatkan bahwa wilayah Indonesia, termasuk Kabupaten Sumbawa, berada di jalur Ring of Fire yang memiliki potensi bencana geologi seperti gempa bumi dan banjir.
Ia secara khusus menyoroti kondisi beberapa wilayah di Kecamatan Moyohulu, seperti Desa Lito dan Desa Batu Tering, yang memiliki kontur tanah labil dan kerentanan tinggi terhadap bencana banjir.
“Pemahaman terhadap rekam jejak kebencanaan sangat penting. Wilayah Moyohulu memiliki kerentanan tertentu sehingga edukasi mitigasi bencana di sekolah menjadi langkah strategis untuk membangun kesiapsiagaan sejak dini,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sumbawa juga tengah menjalankan program Sumbawa Hijau Lestari sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana jangka panjang. Program tersebut mendorong berbagai langkah preventif, termasuk penguatan kesadaran lingkungan dan pengelolaan sampah di tingkat sekolah.
“Melalui program Zero Waste, sekolah diharapkan memiliki bank sampah. Penanganan masalah kebencanaan tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus melibatkan berbagai instansi seperti Damkar, Dinas Sosial, dan BPBD,” tegasnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknologi Lingkungan dan Mineral UTS, Dedy Dharmawansyah, menyampaikan bahwa pendidikan mitigasi bencana perlu ditanamkan sejak usia dini. Hal ini menjadi alasan utama pihaknya menjalin kerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa melalui program sekolah binaan.
Menurutnya, kesiapsiagaan masyarakat merupakan faktor utama dalam meminimalkan dampak bencana, mengingat hingga saat ini tidak ada ilmuwan yang dapat memprediksi secara pasti kapan dan di mana gempa bumi akan terjadi.
“Secara ilmiah, tidak ada ilmuwan yang bisa memprakirakan secara presisi kapan dan di mana gempa bumi terjadi. Karena itu, kesiapsiagaan mandiri menjadi kunci utama,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa juga mendapatkan materi teknis terkait mitigasi bencana yang disampaikan oleh dosen FTLM UTS, Sayidatina Hayatuzzahra. Materi tersebut membahas langkah-langkah penyelamatan diri, sistem evakuasi darurat, serta pemahaman dasar mengenai potensi bencana di lingkungan sekitar.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi kuis interaktif serta simulasi kebencanaan yang melibatkan seluruh siswa SMPN 2 Moyohulu. Dalam simulasi tersebut, para siswa mempraktikkan secara langsung prosedur penyelamatan diri dan evakuasi darurat ketika terjadi bencana.
Melalui kegiatan ini, diharapkan SMPN 2 Moyohulu dapat menjadi model sekolah tangguh bencana di Kabupaten Sumbawa. Program ini sekaligus menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran kolektif di lingkungan pendidikan dalam menghadapi potensi bencana secara lebih siap, terstruktur, dan berkelanjutan.